Just Tell, Me Or Her (Chapter 1)

justtell2

Title:  Just tell me, me or her?

Author: AzaleaChoi74 (@zaazalea)

Main Cast:

  • Kim JongIn (EXO-K’s Kai)
  • Han RaIn (OC)

Support Cast :

  • Kim(park) Jiyeon (T-ara’s Jiyeon)
  • Secret –find it on the next chap

genre: AU,Sad Romance,Family, Angst

length: Twoshoot

rated: G

Disclaimer : all cast belong to their self and God, except the OCs. This FF is mine, so don’t be a copycat okey readers? :*

A/N : Readerdeul, saya balik lagi ^^. Masih inget sama ff last autumn kan?*enggaa* Iya saya authornya kkk~ dan kali ini saya bawa fanfic angst lagi V *timpuk author*. Yaudah deh readerdeul, daripada banyak cek-cok, Have a nice reading J

Warning : FF abal-abal, gak jelas. Typo is everywhere^o^

***

RaIn POV

Lagi, dia meninggalkanku lagi hanya karena adik ‘kesayangan’nya itu merengek meminta untuk ditemani mencari buku. Helaan nafas kembali terdengar dari bibirku, tak bisakah ia memperhatikanku sedikit saja, aku ini yeojachingunya! Selalu saja dia lebih memilih untuk meninggalkanku dan menunda jadwal kencan kita hanya untuk adiknya, menyebalkan.

Sudah puluhan kali dia menunda jadwal kita, mungkin satu dua kali aku bisa memakluminya tapi ini sudah puluhan kali. Aish, aku benar-benar kesal! Aku mengeluarkan ponsel dari saku mantelku dan menekan rangkaian angka nada sambung sudah terdengar, menunggu namja itu mengangkat telponnya. Terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang aku telpon sedang sibuk.

“Yah! Dasar manusia coklat menyebalkan, kenapa dia meng-eject telponku” rutukku sembari menendang-nendang kecil gumpalan salju di jalanan.

Aku berhenti di halte bis dekat sekolahku sambil sesekali menggosok-gosokkan kedua tanganku untuk sedikit menghangatkan tanganku yang sepertinya sudah membeku. Aku memasuki bis yang sudah sampai didepanku dan memilih untuk duduk dikursi nomor 3 sebelah kanan didekat jendela. Lagi-lagi aku menghembuskan nafas kesal, dia menyebalkan.

Kapan dia bisa lebih mengutamakan diriku daripada dia? Tidak bisakah? Aku kembali berusaha menghubunginya, hanya berharap ia akan mengangkat telponnya.

“Ada apa?”

“tidak ada, hanya ingin menelpon.tidak boleh?”

“bukan begitu,Jiyeon belum selesai mencari buku dan aku harus membantunya”

“huff, urus saja adik KESAYANGANmu itu”

Akupun mematikan sambungan telepon segera setelah dia mengucapkan nama ‘adik’nya lagi, bahkan aku hanya ingin menelponnya saja harus mempunyai  alasan yang jelas? Aku membencinya! Apa dia tidak bisa, tidak menyebut nama adiknya itu? Apa dia tidak mengerti perasaanku? Aish, semuanya terlalu menyebalkan.

Aku melihat keluar jendela, berharap akan menemukan ketenangan dengan melihat butir-butir salju yang sedang berjatuhan di luar. Sudah kurang lebih 3 tahun aku bersamanya, dulu saat adiknya masih berada di US dia selalu punya waktu untukku, bahkan dia tidak pernah sekalipun mengingkari janjinya. Tapi, lihatlah sekarang? Dia bahkan tidak menganggapku sebagai yeojachingunya, jujur saja aku lelah terus menerus begini.

Aku masih mau bersamanya, aku akui itu. Aku mencintainya –sangat mencintainya, karena hal itu aku tidak mau melepaskan dirinya sampai aku benar-benar tidak kuat hanya untuk berada disampingnya, dan sampai saat dia… melepaskanku.

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang membuat adiknya begitu berharga untuknya, apa alasannya menjadikanku bukan menjadi prioritas utamanya lagi. Semuanya terasa membingungkan, meskipun didepannya aku memang terlihat tidak peduli dan biasa saja, tapi sebenarnya aku memikirkan banyak hal.

Aku merasakan pundakku ditepuk oleh seseorang, aku mengalihkan  pandanganku dari luar jendela dan melihat orang yang menepuk pundakku,

“ini sudah sampai di pemberhentian terakhir agashi” ucap seorang ahjussi yang mungkin berada di umur 30-an itu.

Segera aku mengedarkan pandangan keseliling tempat yang kata ahjussi itu adalah tempat pemberhentian terkahir, sepertinya aku terlalu banyak melamun.Aish,

“ne,gamsahamnida ahjussi..”

***

Dengan terpaksa aku harus berjalan beberapa pemberhentian lagi untuk sampai kerumahku dan ini sudah malam?!? Argh, rasanya aku ini bodoh sekali! Musim salju dan aku tidak memekai baju yang cukup tebal untuk berjalan sejauh ini, huft.

Ini semua gara-gara namja itu, coba saja kalau tadi aku tidak terlalu memikirkannya pasti tidak akan begini jadinya. Segera kucari ponsel di tasku, mungkin dia sudah selesai mengantar adiknya mencari buku jadi aku bias meminta untuk dijemputnya disini.

“yeoboseyo?” terdengar suara berat khas nya

“kai-ah,bisakah kau menjemputku di pemberhentian bus di itae-won tidak? Tadi aku kelewatan”

“err, jiyeon masih ingin makan malam bersamaku katanya, tidak bisakah kau naik taksi saja?”

Kenapa adiknya itu manja sekali? Huh, membuatku kesal saja. Kai juga lebih memilih untuk bersamanya daripada bersamaku, kita benar-benar harus membicarakan tentang ini!

“kita harus bicara besok,kutunggu dikantin sekolah saat jam istirahat”  jawabku

“apa yang harus dibicarakan? Sepertinya tidak ada”

Dia ini bodoh atau bagaimana? Jadi selama ini dia tidak menyadarai semua tingkahnya huh?

“sudahlah, kau akan tau besok” jawabku lalu mematikan sambungan telepon.

Sekarang aku semakin bingung padanya, jadi selama ini saat dia membatalkan janjinya denganku hanya karena adiknya itu, dia tidak menyadari semuanya? Kenapa semuanya terasa semakin berat hanya untuk berada disampingnya saat ini? Tapi aku sadar, karena aku mencintainya aku harus tetap bertahan seberapa berat berada disampingnya aku tidak akan pergi, tidak sampai dia yang menyuruhku pergi.

Hah, sepertinya aku berfikir terlalu banyak hari ini membuat kepalaku terasa pusing. Aku mempercepat jalanku menuju rumah aku tau eomma dan appa pasti akan bertanya kenapa aku pulang terlambat hari ini,huft.

“aku pulang…” ucapku sembari membuka pintu rumah

“oh, rain-a kenapa baru pulang?” ujar eommaku dari arah dapur

“tadi aku tertidur dibus dan berhenti di pemberhentian terakhir eomma”

Aigoo,bagaimana bias  terjadi rain-a? Sudahlah, kesinilah dulu makan malam sudah siap”

ne”

Akupun berjalan kearah dapur dan duduk di meja makan sambil melihat eomma yang sedang memindahkan makanan dari rak dapur ke meja makan.

eomma,appa eodiseoyeo?”

“ah,appa mu sepertinya akan lembur malam ini, dia dapat tambahan beberapa pekerjaan dari perusahaan”

Aku hanya bergumam mengiyakan dan mulai makan. Akhir-akhir ini appa  memang sering lembur kerja, perusahaan senang sekali memberinya pekerjaan berlebihan. Meskipun sebenarnya memang yang kutahu appa adalah pekerja yang mempunyai predikat baik di perusaahaan tapi bukankah mereka harus mengerti?

“bagaimana rasanya?” Tanya eomma tiba-tiba, membuyarkan segala yang kupikirkan barusan

“mm,seperti biasa, mashita” ujarku sambil tersenyum dan cepat-cepat menghabiskan makananku

“kau ini..” jawab eomma sambil tertawa kecil

Akupun tersenyum kecil dan bergegeas berjalan menuju kamarku yang berada di lantai dua, disana aku langsung membersihkan badan dan berganti baju lalu berjalan membuka gorden dan kembali melihat butiran salju yang turun ditemani segelas coklat panas yang kubawa dari bawah tadi.

Aku duduk di sofa yang memang appa taruh didekat jendela, sebenarnya aku ingin berada di balkon namun mengingat udara yang tidak bersahabat aku tidak mau mati membeku sekarang! Aku kembali berfikir, sebenarnya apa yang harus  aku bicarakan dengannya besok?

Aku menyesap sedikit coklat panas untuk membuat diriku sedikit merasa tenang, kata orang coklat bias membuat kita senang bukan? Tapi sepertinya teori itu tidak berlaku padaku sekarang, hatiku tetap tidak tenang.

***

Kai POV

Sebenarnya apa yang akan dia bicarakan sebentar lagi? Pikirku sembari berjalan menuju arah kantin. Sesampainya di kantin, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kantin untuk mencari dirinya aku menemukannya sedang duduk dibangku pojok sambil melihat kosong kearah taman disamping kantin. Aku berjalan pelan menghampirinya,

“Hai..”

“Oh,hai. Kukira kau tidak akan datang, Kai” jawabnya sambil tersenyum –senyum yang dipaksakan

“Tentu saja, kenapa aku harus tidak datang?” jawabku sembari duduk dikursi yang ada didepannya

“Kau tidak mau pesan makanan dulu? Atau mau langsung ke pembicaran yang kumaksud semalam?” tingkahnya aneh sekali hari ini, dia tidak pernah seperhatian ini terhadapku, ada apa sebenarnya?

“Aku sedang tidak lapar, jadi kau bisa memulainya”

geurae,kau yang memintanya. Aku hanya ingin bertanya sesuatu, aku hanya ingin kau menjawabnya secara jujur”

“mm,arra. Tanya saja apapun yang kau mau..”

“Jika aku,kau dan Jiyeon berada dalam satu mobil, lalu kita mengalami kecelakaan siapa yang akan kau tolong terlebih dahulu? Apakah aku atau Jiyeon? Jawablah dengan jujur kai-ah”

Aku terdiam sesaat, pertanyaan yang cukup sulit untuk kujawab. Mereka sama-sama orang penting bagiku, tapi siapa yang akan kutolong terlebih dahulu?

“untuk apa kau bertanya itu RaIn-a?”

“sudahlah kai, jawab saja..”

“Jiyeon, karena aku bertanggung jawab terhadapnya”

Aku melihat raut wajah RaIn berubah, seperti tersirat kekecewaan dan kesedihan disana. Dia terdiam, cukup lama sampai akhirnya dia tersenyum –masih dengan senyum palsunya dia berkata datar

“begitukah? Arra, kau memberikanku jawaban yang sangat jelas gomawo

“apa yang kau maksud RaIn?”

“kau memilih untuk menolongnya terlebih dahulu dan membiarkanku tersiksa sendiri atau bahkan bisa mati karena kecelakaan itu, tapi kau tetap memilih untuk menolong Jiyeon terlebih dahulu, jadi sekarang aku mengerti. Jiyeon memang jauh lebih penting daripada aku bukan?” tanyanya sambil menatapku sendu

Aku tidak bisa menjawab perkataannya, semua yang dikatakannya memang benar adanya jadi aku tidak punya hal apa yang harus kujawab? RaIn kembali berbicara dan itu membuatku terkejut,

“kau tidak bisa menjawabnya bukan? Ini semua malah membuat semuanya lebih jelas Kai-ah, kau sudah melepasku bukan? Kau lebih memprioritaskan dia jauh diatasku kan? Jadi baiklah karena kau sudah melepasku maka aku harus pergi, jadi aku pergi kai-ah..benar aku pergi..” ujarnya dengan suara pelan

“RaIn-a, bukan begitu maksudku aku…aku…aku…”

“Tak apa kai-a, aku mengerti darah memang akan selalu lebih kental dari air, mian baru bisa mengambil keputusan saat ini, mian jika aku pernah merepotkanmu dan membuatmu lelah, mian atas semuanya kai-a. Sekarang aku harus pergi..karena mungkin ini yang terbaik, anneyeong saranga…” ucapnya sambil tersenyum miris lalu berjalan pergi.

Apa ini salah? Apa seharusnya tadi aku tidak menjawab begitu? Apa seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa tadi? Tuhan, bagaimana ini?

Ah, tapi mungkin benar katanya ‘mungkin ini yang terbaik’ aku hanya berusaha untuk yakin atas apa yang ia katakan, lagipula Jiyeon masih jauh lebih membutuhkanku..

Careless, careless shout anonymous anonymous~

Ponselku berdering,  menandakan satu pesan masuk

From: Uri Jiyeonnie
To: Kai Oppa

Oppa, aku baru saja take off untuk kembali ke US, aku sudah berjanji pada seseorang akan kembali hari ini oppa. Mian tidak memberi tahumu terlebih dahulu, nanti kuceritakan kapan-kapan ^^, saranghae oppa ❤

Aku mengucek mataku beberapa kali, mungkin aku salah membaca, tidak biasanya Jiyeon pargi tanpa berpamitan padaku. Mendadak aku merasakan sesuatu yang aneh mengganggu pikiranku, Apakah aku salah tidak menahan RaIn disampingku? Aku berjalan dengan pikiran itu memenuhi kepalaku, sebenarnya apa melepaskannya adalah hal terbaik?

To Be Continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s